Conheça também

0

URGENSI PERSATUAN

Kamis, 29 Desember 2011.

“ Dari an-nu’man bin basyir dari rasulullah saw yang bersabda :” perumpamaan kaum mukminin dalam cinta kasih,dan kelembutan di antara mereka adalah laksana satu badan. Kalau salah satu anggota badan itu ada yang sakit maka seluruh anggota badan merasakan sakit.” (HR.Muslim)
Perumpamaan yang diutarakan oleh Rasulullah SAW kepada kita, merupakan perumpamaan yang begitu indah, yakni gambaran yang mana semestinya jalinan persahabatan atau persaudaraan antara sesama muslim di wujudkan. Mereka diibaratkan laksana satu tubuh. Sebagaimana layaknya anggota tubuh tidak bisa fungsinya dengan baik tanpa bantuan anggota tubuh yang lain, demikian juga suasana yang berlaku di tengah tengah kaum muslim lain saling membutuhkan. Ikatan dan persaudaraan hendaknya memenyemaikan kekuatan emosional dan simpati di antara mereka.
Ketika ada anggota yang sakit, seluruh anggota tubuh ikut merasakan. Begitu pula lazimnya persahabatan yang ideal. Sahabat laksana satu tubuh, jika ada satu saja yang terluka, yang lain ikut menderita. Ketika sahabat menikmati kegembiraan, sahabat lainpun larutdalam kesukacitaan. Suka dan cita senantiasa dirasakan bersama. Ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul merupakan motto wajib bagi ikatan persahabatan.
Persahabatan yang digambarkan dalam hadist di atas memang terbatas pada sesama muslim. Walaupun demikian, sebenarnya cakupan hadist di atas bisa diperluas pada persahabatan sesama manusia yang melintasi dinding dinding agama. Sebab, sebagai figur yang dinobatkan sebagai panutan oleh  umat manusia, beliau adalah rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) tidak ada segmentasi pada kaum, umat, bangsa dan komunitas tertentu.
Firman Allah dalam Al Qur’an yang artinya:
“ Wahai orang orang yang beriman ta’atilah Allah dan Rasulnya dan pemimpin diantara kamu dan jika kamu berselisih faham maka kembalilah kepada Allah dan Rasulnya jika kamu beriman kepada kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama (bagimu)dan lebih baik akibatnya “ (An-Nisa’).
Dalam ayat ini Allah menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya merupakan sebuah kewajiban bagi kita untuk menta’ati Allah, Rasul dan pemimpin diantara kita, ada beberapa alasan kenapa kita diwajibkan untuk mentaati Allah, Rasul dan para pemimpin diantaranya adalah karena menta’ati Allah dan Rasul adalah rukun islam yang memang harus bagi setiap muslim dan barang siapa tidak mentaati maka akan menuai akibat buruk yang tak dapat untuk dideskripsikan.
Kemudian jika kita mendapati sebuah permasalah yang menyebabkan perselisihan asumsi diantara kita maka sudah sepantasnyalah untuk merujuk kepada Al Qur’an dan sunnah karena dalam kedua kitab inilah sebuah permasalahan yang sedang kita hadapi akan ditemukan jalan keluar yang pas, dengan mengembalikan segala sesuatunya pada Allah dan Rasulnya berarti kita telah memilih jalan yang paling baik dari jalan jalan lain.
 Menurut teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieiqy dalam kitabnya yang berjudul Tafsir Al Bayan beliau menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
Ayat ini mewajibkan kita mengembalikan segala perselisihan yang terjadi antara kita dengan umara atau antara kita dengan ulama kepada kitab dan sunnah, atau anggota parlemen dengan pemerintah atau anggota parlemen dengan anggota dan membentuk badan pertimbangan untuk meyelesaikan persengketaan itu.
Hal ini diupayakan agar tidak terjadi perpecahan diantara kira sebagai saudara antara satu sama lain oleh karena itu marilah kita junjung tinggi kekompakan dan persaudaraan yang aman dari perpecahan.
Leia Mais...
0

KACAMATA POSITIF SEORANG DA’I MUDA


Dalam pandangan Islam, manusia itu pada dasarnya adalah makhluk suci, dilahirkan dalam     keadaan suci, dan bisa kembali lagi pada kesuciannya.Pandangan tersebut merupakan pandangan yang sangat positif dan optimistik tentang manusia. Allah swt. dalam Al-Quran menyebutkan manusia sebagai makhluk yang paling baik atau paling sempurna. "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” [Q.S. At-Tin (95): 4]

            Islam juga mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang diberi kemuliaan. "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri merek rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.”

          Salah satu contoh aplikasi pandangan positif dan optimistik Islam tentang manusia adalah penyebutan hati (qalbu) dengan istilah nurani (nuuraaniyyun). Kata ini berasal dari kata ‘nuur’ yang artinya cahaya. Jadi, nurani berarti memiliki sifat cahaya. Dengan demikian ketika kita menyebut ‘hati nurani’ sesungguhnya terkandung maksud bahwa hati kita itu memiliki kemampuan untuk ‘mencahayai’ atau ‘menerangi’ jalan hidup kita. Karena itulah Rasulullah saw. ketika ditanya seseorang tentang cara membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan buruk, beliau menjawab, "Sal dhamiraka, tanyalah kepada hatimu!”

         Atas jawaban Rasulullah tersebut bahwa hati kita memiliki kemampuan untuk menerangi jalan hidup kita kaum sufi sering menyebut hati sebagai "ad-diin” (agama). Maksudnya, agama yang ditanam di dalam diri manusia (ad-diin al-majbuulah) dan sangat klop dengan agama yang diturunkan dari langit (al-diin al-munazzalah), yaitu Al-Islam.

         Meski begitu, Islam juga memberi catatan tentang kelemahan manusia. " dan manusia dijadikan bersifat lemah.” [Q.S. An-Nisa’ (4): 28]. Kelemahan manusia di sini adalah kelemahan jiwa. Manusia mudah tergoda untuk berbuat dosa dan mengotori kesucian jiwanya. Kelamahan inilah yang membuat manusia keluar dari kesejatiannya sebagai makhluk yang suci dan mulia.

         Dalam kondisi jiwa yang kotor penuh dosa, derajat manusia bisa menjadi lebih rendah dari binatang sekalipun. " mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi….” [Q.S. Al-A’raf (7): 179].


        Dan yang paling spektakular adalah fasilitas tahunan: Ramadhan, kata Rasulullah saw. "Man shaama ramadhaana iimaanan wahtisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzambiihi wa maa ta-akhkhara, siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan perhitungan, diampuni segala dosanya di masa lalu dan di masa yang akan datang.” (H.R. Ahmad). Tambahan "wa maa ta-akhkhara” oleh sejumlah pakar hadits dinilai lemah riwayatnya, tapi kalimat selain itu disepakati berder.

          Begitulah Ramadhan. Sesuai dengan arti namanya "pembakar”, Ramadhan membakar semua dosa-dosa seseorang muslim sehingga ia kembali ke jatidirinya sebagai insan yang suci seperti ketika dilahirkan (fitrah).

         Segala fasilitas ampunan yang Allah swt. berikan kepada manusia yang berdosa untuk kembali kepada fitrahnya adalah alasan bagi seorang da’i untuk tidak ada alasan untuk tidak berdakwah kepada orang yang pembangkangannya kepada Allah swt. sekelas Fir’aun sekalipun. "Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun karena dia benar-benar telah melampaui batas maka bicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” [Q.S. Thaha (20): 42-43].

Begitulah Allah swt. Kata Rasulullah saw., "Allah mengembangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk memberi tobat kepada orang yang melakukan keburukan di waktu siang, dan mengembangkan tanganNya di waktu siang untuk memberi tobat kepada orang yang melakukan dosa di waktu malam. Hal itu terus berlangsung hingga matahari terbit dari barat (kiamat).” (H.R. Bukhari)

         "Allah lebih senang mendapati hamba-Nya yang bertobat melebihi dari kegembiraan seseorang dari kalian yang kembali menemukan hewan kendaraannya yang penuh bekal makanan setelah ia kehilangannya di padang pasir,” tambah Rasulullah saw. (H.R. Bukhari).

          Jadi, tidak ada dalam kamus seorang dai kalimat "sudah tinggalin saja, dia sih sudah gak bisa dibenerin lagi!” Sebab, seorang dai selalu memakai kacamata positif dalam memandang manusia. Siapa pun dia selama sebutannya masih manusia dan belum masuk kubur, adalah makhluk suci, dilahirkan dalam keadaan suci, dan bisa kembali lagi pada kesuciannya.
Leia Mais...
0

HAKIKAT IMAN DALAM AL-QUR’AN dan AS-SUNNAH


Al-qur’an dan As-sunnah telah memaparkan berbagai hal tentang iman dan betapa banyak ayat quraniyah dan hadist nabawiyyah menyebutkan secara mutlak  istilah  iman kepada ucapan dan perbuatan iman yang mutlak, kepadanya semua perkara agama lahir dan batin, yang ushul maupun yang furu’. Termasuk pula akidah yang wajib diyakini termasuk pula amalan hati seperti cinta kepada Allah dan rasul-Nya.
Adapun perbedaan antara ucapan hati dan amalan hati ialah, bahwasanya ucapan atau perkataan hati adalah dalam bentuk keyakinan, dimana hati mengakui dan meyakini suatu perkara adapun amalan hati adalah gerak gerik hati yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya.Yang perlu dijadikan pedoman dalam hal ini adalah bahwasnaya mencintai kebaikan, keinginan kuat untuk berbuat baik kebencian terhadap perbuatan jelek dan tekad(azam)untuk meninggalkanya adalah amalan hati yang dari sinilah tumbuhnya amalan anggota badan.
Jadi, shalat, zakat, haji, dan puasa dan jihad adalah bagian dari iman. Birrul walidaini, menyambung silaturrahim, menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak makhluk-Nya yang beraneka ragam semuanya merupakan keimanan, begitu pula ucapan ucapan seperti, membaca Al-qur’an, dzikrullah, memuji Allah dan lain lain, semuanya termasuk keimanan. Oleh karena itu, ketika “iman” menjadi suatu istilah bagi semua perkara berlanjut pula bahwa ia bertambah dan berkurang sebagaimana secara tegas ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Al-qur’an dan As-sunah dan dapat disaksikan pula dari keragaman tingkat kaum muslimin satu sama lain adalah akidah amalan hati maupun amalan anggota tubuh mereka.
 Ibnu Taymiyah mengatakan: merupakan prinsip pokok Ahlussunnah adalah bahwasanya Addin dan iman adalah ucapan dan perbuatan perkataan hati ,lisan amalan hati lisan dan anggota badan.dan bahwasannya iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dengan bertambah serta berkurangnya iman itu, kaum mukminin terbagi menjadi tiga golongan, yaitu:
1.      Golongan yang bersegera dalam kebaikan (sobiqun bilkhair) yaitu mereka yang menunaikan semua perkara yang wajib, sunnah dan meninggalkan perkara yang haram dan yang tidak disukai mereka inilah yang dinamakan dengan golongan yang didekatkan(Al-muqarrabin).
2.      Golongan pertengahan (Al-muqtashidun) yang hanya menunaikan perkara yang wajib dan meninggalkan hal hal yang diharamkan.
3.      Golongan yang menzalimi diri sendiri mereka ini melakukan sebagian perkara yang diharamkan dan kurang dalam menunaikan hal hal yang diwajibkan namun pokok keimanan masih ada pada diri mereka.
Orang orang yang beriman berbeda beda tingkatan ilmu mereka tentang iman dan rinciannya diantara mereka ada yang sanggup memahami rincian keyakinan dalam iman tersebut serta berbagai kebaikan lainnya,sehingga bertambahlah keimanan mereka dan sempurna pula keyakinannya diantara mereka pula ada pula yang mencapai tingkatan ini dan ada pula yang di bawahnya bahkan adapula keadaan dimana seseorang mempunyai keimanan yang mujmal namun tidak mencapai hal hal yang rinci sedikitpun, meskipun dia tetap dikatakan mukmin maka jelaslah perbedaan diantara semua tingkatan ini.
Di samping itu, perbedaan yang terjadi pada amalan hati dan amalan anggota badan pada setiap orang yang beriman juga  berbeda-beda demikian pula banyak sedikitnya ketaatan yang mereka lakukan semua itu oleh indera manusia. Hal ini yang menunjukan bertambah dan berkurangnya iman bahwasanya diantara orang-orang yang beriman ada yang ternoda imannya, oleh perbutan maksiat dan apabila ia terjerumus kepada kemaksiatan itu, dia segera bertobat dan kembali kepada Allah dan diantara mereka ada yang selalu bermaksiat, selain itu orang yang beriman ada yang telah merasakan betapa lezat dan manisnya iman didada mereka, dimana mereka merasakan lezatnya kekuatan kepada Allah dan hati mereka di penuhi oleh keimanan.
Allah berfirman:
“sesungguhnya orang orang beriman itu apabila diingatkan tentang allah, gemetar hati mereka, dan jika dibacakan kepada mereka ayat ayat allah semakin betambah iman mereka”.
Dan sabda nabi saw:
tidak akan berzina seseorang penzina sedang dia dalam keadaan mukmin (yang sempurna imannya) dan tidaklah mencuri seseorang pencuri sedang ia dalam keadaan mukmin(yang sempurna imannya) tidak pula ia akan minnum khamar sedang ia dalam keadaan mukmin dan tidak akan merampok orang yang mempunyai dan diperhatikan oleh manusia, sedang ia dalam keadaan mukmin.”(HR bukhari dan muslim dari abu hurairah)”.
Dari dalil diatas dapat pula dikatakan bahwa  yang mencegah masuknya seseorang ke dalam neraka adalah iman yang sempurna. Dan  yang mencegah seseorang untuk kekal abadi di neraka adalah iman yang tidak sempurna, dan banyak pula hadist shahih yang meyebutkan akan keluarnya seseorang dari neraka yang ada padan hatinya iman walau sebesar biji sawi.
Jadi, kataatan sebab masuknya seseorang kedalam surga dan mendapat pahala sedangkan kemaksiatan sebab masuknya sesorang ke neraka dan mendapatkan hukuman, akan tetapi ketika rahmat Allah mendahului murka-Nya karunia-Nya demikian berlimpah dan beraneka ragam serta merata dari berbagai sisi, keadaan minimal dari iman pada diri seseorang tetap mempuyai astar   (pengaruh)yang pasti dalam keadaan bagaimanapun. Sehingga apabaila pada diri sesorang terdapat iman sekecil atau seringan apapun maka tempat kembalinya adalah kekal di negeri yang penuh kenikmatan(surga).
Leia Mais...
0

Berfikir Dan Mentadabburi Keimanan Melalui Al-Qur’an


Wawasan keislaman. sebagai seorang muslim menjadi keniscayaan bagi dia untuk memperluas wawasan keislaman. Sebab dengan wawasan keislaman akan memperkokoh keyakinan keimanan dan daya manfaat diri untuk orang lain.
 Pola pikir islami. Pola pikir islami juga harus dibangun dalam diri seorang muslim. Semua alur berpikir seorang muslim harus mengarah dan bersumber pada satu sumber yaitu kebenaran dari Allah swt. Islam sangat menghargai kerja pikir umatnya. Di dalam al-qur’an pun sering kita jumpai ayat-ayat yang menganjurkan untuk berpikir: “afala ta’qiluun, afala tatafakkaruun, la’allakum ta’qiluun, la’allakum tadzakkaruun,”
Seorang muslim harus senantiasa menggunakan daya pikirnya. Allah mewujudkan fenomena alam untuk dipikirkan, beraneka macamnya tingkah laku manusia sampai adanya aneka pemikiran dan pemahaman manusia hendaknya menjadi pemikiran seorang muslim. Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa tujuan berpikir tidak lain adalah untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah subhânahu wa ta`âlâ bukan sebaliknya.
Terus kalau kita ingin memproyeksikan hakekat iman dengan kondisi kaum muslimin pada masa kini maka hasilnya akan menuntut kita untuk lebih merenung, dimana kejayaan kaum muslimin ? Dimana harga diri kaum muslimin, bahkan dimana harga darah seorang muslim di mata kaum muslimin sendiri ? Dimana kepemimpinan, kejayaan kaum muslimin diatas kaum yang lainnya ? Dimana solidaritas sesama kaum muslimin, alam skala nasional, regional maupun internasional ?
Ketika kita berfikir sampai jauh seperti itu kita akan berusaha bagaimana kita bisa mencapai atau menemukan titik terang dari itu semua. Kita harus sadar sebagai orang muslim yang mana semua itu jadi tanggung jawab kita untuk berfikir mencari titik terang melalui Al-qur’an karna hanya Al-qur’an yang paling utama dibuat pedoman atau jalan untuk berfikir bagai mana melalui semua itu. Dan kita bisa belajar dari rasulullah dan sahabat-sahabat rasulullah yang mana mereka mencari semua itu melalui al-qur’an.
Seperti sabdanya Rasulullah Saw,yang mana ini juga disebut rintihannya kepada rabbnya dengan mengatakan:
"Berkatalah Rasul wahai Robbku sungguh kaumku telah menjadikan Alquran ini sesuatu yang ditinggalkan”.
Ditinggalkan karena mereka tak membacanya, atau tidak mau merenungi ma’nanya atau tidak mau mengamalkan isinya.
Yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan diatas adalah kita bersama merenungi sambutan Rasulullah dan para sahabat terhadap Al-qur’an dan bagaimana kedudukan Al-qur’an dihati mereka.
Kita bisa belajar dari itu semua bagaimana berfikir atau bertadabur melalui Al-qur’an.
Bagaimana Al-qur’an dihati Rasulullah dan para sahabat ?
Pertama : Para sahabat memandang kebesaran Al-qur’an dari kebesaran yang menurunkannya, kesempurnaannya dari kesempurnaan yang menurunkannya, mereka memandang bahwa Al-qur’an turun dari Raja, Pemelihara, Sesembahan yang Maha Perkasa, Maha Mengetaui, Maha Kasih Sayang.
Dari pandangan ini mereka menerima Al-qur’an dengan perasaan bahagia campur perasaan hormat siap melaksanakan perintah dan perasaan cemas dan harapan, serta perasaan kerinduan yang amat dalam, bagaimana tidak ? karena orang yang membaca Al-qur’an berarti seakan mendapat kehormatan bermunajat dengan Allah Swt sekaligus seperti seorang prajurit menerima perintah dari atasan dan seorang yang mencari pembimbing mendapat pengarahan dari dzat yang maha mengetahui.
 Kedua : Rasulullah dan para sahabat memandang Al-qur’an sebagai obat bagi segala penyakit hati dan ketika mereka membaca Al-qur’an yang berbicara tentang segala kelemahan hati, penyakit hati, mereka tidaklah merasa tersinggung bahkan mereka berusaha mengoreksi hati mereka dan membersihkan segala sifat yang dicela oleh Al-qur’an dan berusaha bertaubat dari apa yang dikatakan buruk oleh Al-qur’an .
Maka sudah pantaslah ketika Al-qur’an banyak menceritakan sifat-sifat munafiq mulai dari malas sholat, dzikir sedikit, pengecut, mengambil orang kafir sebagai pemimpin dan lain-lainnya, para sahabat segera mengkoreksi hati mereka dan mencari obatnya walaupun mereka tidak dihinggapi penyakit itu.
Ketiga : Para sahabat memandang bahwa Al-qur’an adalah nasehat dari Dzat yang amat sayang dengan mereka yang sangat perlu didengar yang berarti mereka sangat menyadari kalau mereka bisa salah, tapi akan segera kembali kepada kebenaran manakala ada teguran dari Al-qur’an.
Sahabat hidup dengan misi, “Risalah menyelamatkan seluruh manusia dari perbudakan manusia untuk manusia menuju penghambaan Allah yang Esa dan mengeluarkan mereka dari kedhaliman sistem manusia menuju keadilan Islam dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat”, dan pastilah kaum yang membawa misi demikian ada pendukung dan musuhnya, maka mereka menjadikan Al-qur’an sebagai pembimbing untuk mengetahui musuh-musuh Allah Swt, dan musuh mereka, siapa wali-wali mereka dan wali-wali Allah Swt dan mereka memperlakukan manusia sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Allah Swt, mereka cinta terhadap ayah, anak, istri, serta kerabat mereka. Tetapi jika yang dicintai itu memusuhi Allah Swt dan Rasul-Nya serta membenci Islam, maka mereka segera merubah sikapnya dengan hanya memihak Allah Swt dan mencabut perasaan cintanya kepada selain Allah.
Keempat : Para sahabat memandang bahwa seluruh alam semesta dan diri mereka adalah ciptaan Allah Swt dan tidak mungkin membudidayakan alam semesta serta mengatur mereka kecuali Dzat yang menciptakannya sehingga mereka meyakini bahwa keimannya menuntut untuk menjadikan Al-qur’an sebagai satu kesatuan yang utuh yang tidak dipisahkan antara satu sama lainnya, mereka menjadikan Al-qur’an sebagai way of live pedoman hidup mereka dan mereka sangat sensitif terhadap usaha-usaha yang akan memisahkan satu bagian sistem Islam dengan bagian yang lainnya.
Pantaslah kalau Kholifah Abu Bakar berpidato ketika banyak orang yang murtad dan tidak mau membayar zakat, dengan mengatakan :
“Apakah agama ini akan dikurangi padahal saya masih hidup, demi Allah Swt kalau mereka menghalangi tali yang mereka serahkan kepada Rasulullah pastilah aku perangi mereka atas keengganannya”.
Mereka menyadari betul adanya perbedaan antara orang yang belum mampu melaksanakan, dengan orang yang sengaja memilih-milih apa yang mau dilakukan dan apa yang ditolak.
Kelima : Para sahabat memandang bahwa Al-qur`an adalah kasih sayang dari Allah Swt,  maka mereka melihat bahwa seluruh isi Al-quran baik aqidahnya, hukumnya, perintahnya, larangannya, berita–beritanya adalah untuk kebaikan manusia, maka mereka menerimanya dengan senang hati, adapun yang menolak hukum Islam pada dasarnya adalah lebih memihak para pemeras orang lemah dari pada memihak orang yang diperas, lebih sayang dengan para pembunuh dari pada yang dibunuh atau lebih memihak para penggarong dan pemerkosa dari pada yang di garong dan diperkosa, lebih memihak musuh Allah Swt dari pada memihak Allah Swt, dan secara implisit menuduh Allah Swt keras dan zdolim, orang yang semacam ini perlu intropeksi akan hakekat keimanannya.
Para sahabat menjadikan Al-qur’an sebagai penerang hakekat hidup, dari Al-qur’an mereka mengetahui bahwa dunia ini hanya seperti tanaman di ladang yang hijau kemudian menguning dan hancur, maka mereka sangat zuhud dengan dunia mereka mengetahui dari Al- qur’an bahwa riski, umur sudah ditentukan oleh Allah Swt, tidak akan berkurang karena perjuangan, maka mereka terus berjuang dan berjihad tak takut mati dan tak takut kehilangan harta, mereka mengetahui bahwa mereka diciptakan dalam kondisi bertingkat-tingkat dalam hal ekonomi, kecerdasan dan kekuatan fisik untuk menguji mereka akan tugas yang mereka pikul, maka ketika mereka menjadi para gubernur dan khalifah mereka melihat itu semua sebagai tugas bukan suatu kehormatan, apalagi ketika mereka mendengar Rasulullah bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori-Muslim: “Tidaklah ada seorang hamba yang dijadikan Allah Swt memimpin rakyat kemudian tidak serius dalam memikirkan kemaslahatannya kecuali tidak akan mencium baunya surga”.
Terahir kali, itulah sifat dan interaksi para sahabat dengan Al-qur’an dan semoga kita bisa mencontoh mereka, mereka telah bersusah payah untuk kebahagiaan kita dan rasa lelah mereka sudah hilang dan mereka telah bahagia untuk selama-lamanya dan didunia sejak zaman mereka sampai hari kiamat selalu dikenang dan dido’akan orang yang datang setelah mereka, alangkah bahagianya mereka.
                Maka dari itu kita harus sadar bertapa berat beban mereka yang memperjuangkan imannya dan kita harus ingat mereka memantapkan imannya dan berfikir melalui Al-qur’an.
Leia Mais...
 
KILE' BLOG © Copyright | Template By Mundo Blogger |
Subir