Conheça também

0

Kejujuran Membawa Keselamatan

Rabu, 28 Desember 2011.

Ø  “ Katakanlah Kejujuran Itu Sekalipun Pahit “
Jujur adalah sebuah perkataan yang tidak asing lagi di telinga kita. kita sering dengar dan menjadi topik pembahasan di berbagai khutbah dan taushiyah. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut baru menyentuh sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan lain sebagainya.
Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah dan Rasul-Nya memuji orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang luar biasa besar pahalanya untuk mereka. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi bersabda:
 “berlakulah jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, sampai ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan  itu membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR al-Bukhari dan Muslim, teks hadis mengikuti versi Muslim)
Ø  Definisi Jujur
Jujur artinya keselarasan antara apa yang diucapkan dengan kenyataannya. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah, secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah menggambarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya). Allah berfirman, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS al-Maidah:119)
Ø  Keutamaan Jujur
Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan dasar akhlak karimah yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi, “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.” Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama manusia.
Sifat jujur merupakan tanda sempurnanya keislaman, timbangan keimanan, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Karena itu, orang yang jujur akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.
Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana yang terdapat dalam hadist yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi, beliau bersabda:
“Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”
Dalam kehidupan sehari-hari dan ini merupakan bukti yang nyata kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemulian dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akhirat.
Tidaklah kita temui seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.
Orang yang jujur diberi amanah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia. Kalau kemudian melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya dengan izin Allah akan dapat menyelamatkannya. Sementara pendusta, sekecil biji sawipun tidak akan dipercaya. Jikapun terkadang diharapkan kejujurannya itupun tidak mendatangkan ketenangan dan kepercayaan. Dengan kejujuran maka sah-lah perjanjian dan tenanglah hati. Barang siapa jujur dalam berbicara, menjawab, memerintah (kepada yang ma’ruf), melarang (dari yang mungkar), membaca, berdzikir, memberi, mengambil, maka ia disisi Allah dan sekalian manusia dikatakan sebagai orang yang jujur, dicintai, dihormati dan dipercaya. Kesaksiaannya merupakan kebenaran, hukumnya adil, muamalahnya mendatangkan manfaat, majlisnya memberikan barakah karena jauh dari riya’ mencari nama. Tidak berharap dengan perbuatannya melainkan kepada Allah, baik dalam salatnya, zakatnya, puasanya, hajinya, diamnya, dan pembicaraannya semuanya hanya untuk Allah semata, tidak menghendaki dengan kebaikannya tipu daya ataupun khianat. Tidak menuntut balasan ataupun rasa terima kasih kecuali kepada Allah.
Menyampaikan kebenaran walaupun pahit dan tidak mempedulikan celaan para pencela dalam kejujurannya. Dan tidaklah seseorang bergaul dengannya melainkan merasa aman dan percaya pada dirinya, terhadap hartanya dan keluarganya. Maka dia adalah penjaga amanah bagi orang yang masih hidup, pemegang wasiat bagi orang yang sudah meninggal dan sebagai pemelihara harta simpanan yang akan ditunaikan kepada orang yang berhak.
Seorang yang beriman dan jujur, tidak berdusta dan tidak mengucapkan kecuali kebaikan. Berapa banyak ayat dan hadits yang menganjurkan untuk jujur dan benar, sebagaimana firman-firman Allah yang terdapat dalam al-qur’an, diantaranya;
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Q.S. at-Taubah:119)
“Allah berfirman, ‘Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.’” (Q.S. al-Maidah:119)
Ø  Macam-Macam Kejujuran
Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.
Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.
Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah:
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (Q.S. al-Ahzab:23)
Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif, “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar/jujur’”.
Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah;
Realisasi perkara-perkara ini membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin seseorang manggapai kedudukan ini hingga dia memahami hakikatnya secara sempurna. Setiap kedudukan (kondisi) mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Ada kalanya lemah, ada kalanya pula menjadi kuat. Pada waktu kuat, maka dikatakan sebagai seorang yang jujur. Dan jujur pada setiap kedudukan (kondisi) sangatlah berat. Terkadang pada kondisi tertentu dia jujur, tetapi di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kejujuran adalah menyembunyikan ketaatan dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya.
Wallahu a’lamu bisshawab...!!!
Leia Mais...
0

HIASI DIRI DENGAN SALING MEMA’AFKAN


Minta ma’af jauh lebih mudah dari memberi ma’af, begitu kata orang-orang. Mungkin hal itu memang benar sekali, bahwa memberi maaf terasa amat berat.
Apabila berkaca pada seorang pemimpin yang kurang bijaksana, pemimpin tersebut tidak akan memberi ma’af kepada bawahannya sebelum bawahannya menunduk minta ma’af kepadanya, lebih-lebih orang yang memiliki kedudukan yang cukup tinggi  dan serba mewah, ia akan sungkan untuk minta ma’af pada yang miskin. Kehidupan ini memang tak lagi bersahabat, melainkan kehidupan ini membangun sikap permusuhan, karena apa...? karena jiwa ini tidak dibenarkan bersikap pesimis dan selalu berprasangka negatif terhadap kehidupan di dunia. Jika kita sempit dalam menghayati kehidupan dunia, Al-Qur’an justru menyindir kepesimisan dan kenegatifan kita dalam surat Al-Hujurat 49:12 yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang mengunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat, maha penyayang.”
Al-Quran menggunakan kata “daging”dalam kaitannya dengan orang yang suka mencari aib dan kesalahan orang lain untuk menyebar fitnah. Menurut pandangan Buya Hamka adalah sangat benar, karena perbuatan mencari aib dan menyebar fitnah merupakan tindakan yang sangat tidak sportif. Ini semua disebabkan oleh tiadanya sikap pema’af antara satu sama lain. Seperti halnya dilingkungan kita sendiri, kita sering melihat perbedaan pendapat dimana pada akhirnya berakhir dengan perpisahan yang mengharukan. Disinilah akan muncul sikap amarah dan permusuhan sebagai  wabah.
Itulah sebabnya Islam menganjurkan pada umatnya untuk saling berma’afan. Secara psikologis, orang yang melakukan kesalahan kemudian meminta ma’af itu hal yang biasa, yang luar biasa adalah orang yang benar tapi tidak merasa paling benar. Baginya tiada orang yang luput dari salah dan dosa. Sebagaimana sabda Nabi “al-insanu mahallul khata’ wan nisyan”. Orang yang selalu memberi ma’af kepada siapa saja adalah orang yang berilmu dan orang yang terpandang mulia. Benarkah demikian...? tentu saja tidak, karena hanya orang yang berjiwa besar, berhati lapang dan selalu terdidik untuk menuju kedewasaan yang berkenan melakukannya dengan senyuman yang begitu manis.
Menurut Martimer R. Fanberg kedewasaan disini adalah orang yang ikhlas menerima diri sendiri serta memilliki kesabaran dan mampu menghargai orang lain seraya menerima kesalahannya, lalu mema’afkannya. Orang yang sanggup mengatasi dirinya sendiri kemudian masuk ke ego orang lain lalu dia berbahagia didalamnya dari relung hatinya yang paling dalam terpancar kasih sayang yang tulus, yang oleh Albert Camus disebut sebagai “cinta sejati” cinta kepada sesama tanpa menghitung untung dan rugi.Cinta yang memiliki makna yang hakiki, yaitu merelakan dan mengampuni, mengerti dan memahami, karena memahami itu berarti mema’afkan segalanya.
Ingat!!! Orang yang tidak pernah meminta ma’af apalagi memberi ma’af adalah orang yang mengaku tidak pernah berbuat salah.  Orang yang tidak pernah mengaku berbuat salah adalah orang yang paling banyak melakukan kesalahan. Karena ia telah mengingkari fitrahnya sendiri yang terlahir sebagai manusia yang lemah yang tidak luput dari salah dan dosa. Oleh karena itu memberi ma’af dan meminta ma’af adalah kemestian manusiawi yang tidak semuanya harus ditimbang dari siapa yang benar dan siapa yang salah.
Maka dari itu, marilah  kita belajar untuk menjadi orang yang selalu menberi ma’af terhadap orang lain. Minta ma’aflah jika kita punya salah, jangan pernah merasa rendah diri terhadap apa yang telah kita lakukan. Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya dan termasuk orang-orang yang selalu meminta ma’af ataupun memberi ma’af terhadap sesama.
Leia Mais...
4

HASIL RISET “PROBLEMATIKA KEIMANAN PEMUDA ISLAM MASA KINI”


“ Oleh: Arbrt Graft.
Berbicara soal pemuda, ibarat menyelami lautan tak bertepi dan tak berdasar. Sangat luas dan kompleks. Sarat dengan hal-hal yang unik, menakjubkan tapi juga terkadang mengkhawatirkan. Sebuah masa yang paling berkesan dalam episode kehidupan manusia.
Sifat-sifat seperti semangat membara, keras dalam prinsip, tubuh dan jiwa serta pikiran yang masih segar dan sedang mengalami growing up, menjadikan sosok pemuda adalah sosok manusia dalam bentuk paling indah. Peran dalam kehidupan yang mereka ambil pun cukup besar. Sehingga wajar jika estafet perjuangan hidup diserahkan sepenuhnya pada para pemuda.
Meski demikian, perlu juga diwaspadai, masa ini adalah masa dimana segala gejolak dan rasa mencapai puncaknya. Hasrat dan keinginan bergejolak dahsyat dalam jiwa. Godaan terhadap keimanan dan dorongan nafsu mendesak sangat kuat. Sehingga kans untuk tergelincir pada lembah kebinasaan terbuka lebar, sebagaimana peluang menuju kesuksesan pun terhampar di depan mata.
Kenapa tidak??? tak sedikit fakta mengatakan bahwa tingkat kebrutalan serta dekadensi moral yang sudah sampai pada tingkat yang mengerikan pada diri pemuda (yang dalam hal in pemuda islam), membuat kita prihatin. Ditambah lagi dengan hasil penelitian yang mengatakan bahwa  90 sekian persen mahasiwi di beberapa PTS ( Perguran Tinggi Suwasta ) maupun PTN telah kehilangan mahkota keperawanannya, demikian pula siswi-siswi SMU bahkan SMP, sekian persen pecanduan narkoba dan miras, juga sekian persen yang terlibat tindak kriminal maupun pelecehan sexual.
Ini semua membuktikan bahwa keimanan pemuda islam pada umumnya mengalami permasalahan dan kemunduran yang sangat dramatis dan mengerikan.
Ada rumah ada atap ada asap ada api, tentu semua musibah itu ada sebabnya. Nah…!!! Saat ini kita bahas  penyebabnya, dengan harapan setelah kita mengetahui beberapa penyebab kita bisa mencoba merenungkan untuk kemudian menyadari dan berusaha mencari solusi.
Diantara sekian banyak sebab yang ada itu, antara lain  :
1. Runtuhnya Akhlaq Pemuda Islam
Hal mendasar dari runtuhnya akhlaq pemuda Islam hari ini adalah makin punahnya kemauan mempelajari apa yang selama ini telah mereka ikrarkan dari kalimat syahadat dan ilmu dien pada umumnya. Hal mana pengetahuan tentang Islam, ma’rifah ( pengenalan) tentang Robbnya dan Rasul-Nya, akan sangat berpengaruh pada pola kehidupannya. Semua ilmu itu akan berbanding lurus dengan sikapnya sehari-hari. Semakin dalam pengetahuan diennya, semakin banyak pula akhlaq karimah terbias dalam perilakunya. Jika ma’rifah tidak bisa terinternalisasi dengan baik pada jiwa sehingga tidak bisa terrefleksi dan terrelalisir pada perilaku keseharian, maka kesalahan ada pada individunya bukan pada ilmu. Entah karena hidayah Allah belum terkarunia atau pemahaman yang salah atau juga karena dominasi nafsu yang mencengkram kuat setiap ruas tubuhnya hingga menghalangi ilmu.
2. Meneladani Figur Yang Salah.
Parameter sebuah perilaku dikatakan baik atau buruk, etis tidak etis, wajar atau kurang ajar, seringkali sangat dipengaruhi faktor figur publik. Dan efek yang ditimbulkan sangat bergantung intensitas show serta popularitas. Dalam hal ini, nampaknya yang beruntung mendapat “jabatan” sebagai publik figur paling berpengaruh adalah kalangan entertainer, khususnya artis.
Akhir-akhir ini telah bermunculan berbagai wahana sebagai ajang kreasi muda-mudi yang semuanya menjurus kepada kerusakan moral, dalam hal itu setasiun tv berlomba-lomba untuk ikut mendukung acara tersebut yang mereka namakan dengan sayembara untuk menjadi Idola, pada hakekatnya mereka sedang berbondong-bondong untuk mengikuti apa yang disebut dengan SAYEMBARA IBLIS. Apa yang Mereka tampilkan sebenarnya bukan karena kelihaian yang mereka miliki, melainkan masyarakatlah yang terlalu mudah menerima segala yang ada dan kecenderungan terhadap nafsu . Pergeseran norma dan nilai yang ada seringkali tidak bisa dirasakan, khususnya di kalangan pemuda.
Contoh dan tauladan yang baik hanya muncul  di beberapa forum tertentu. Itupun kadang hanya berupa kisah atau dongeng dari sang penyampai. Sedangkan penjelmaan dari tauladan itu secara nyata pada sikap individu sangatlah sedikit. Dengan demikian, jika para generasi muda Islam tidak  pandai-pandai mensikapi, memilah-milih dan berusaha mengontrol diri dan lingkungan semampunya, bukan mustahil lingkungan bahkan dirinya sendiri akan terinfeksi penyakit tersebut.
Berangkat dari rasa tunduk pada Sang Pencipta dan keimanan kepadaNya, Pemuda Islam harus segera berbenah diri dan mulai melangkah.
3. Mudah Terpengaruh Persepsi Yang Keliru.
Gengsi, jaim ( jaga image ), ngetrend dan lainnya telah menjadi kamus sakti kawula muda saat ini. Siapa yang tidak mengamalkannya akan dicap ketinggalan jaman dan dikucilkan. Sebenarnya hal semacam itu  tak sepenuhnya salah, akan tetapi jika yang terjadi ternyata, demi semua itu rela mengorbankan syariat  bahkan menerjang garis batasnya tentu yang semacam ini tidak bisa dibenarkan. Dan kenyataannya apa yang disebut sebagai trend masa kini acapkali berbenturan dengan nilai –nilai syariat Islam. Efek sampingnya, banyak pengamalan syariat yang berlawanan dengan trend dianggap sesuatu tidak relevan dan ortodok (kuno).
Lemahnya fikrah generasi kita menjadikan setan mudah menaburkan benih-benih pandangan sesat lewat corong-corongnya. Berbagai persepsi yang destruktif (bersifat merusak) secara kontinyu dihembuskan hingga bisa mengikis mahligai akhlak yang pada hari ini sebenarnya telah rapuh.
Tadinya seorang muslimah akan merasa  risih dengan “baju adiknya” karena sempit dan tidak kuasa menutup seluruh anggota tubuhnya,  juga dengan pergaulan yang no limit karena dianggap tidak sesuai dengan etika. Sebuah rasa yang berasal dari fitrah suci seorang manusia yang akan dituntun oleh Islam menjadi sebuah akhlak yang mulia. Tetapi mode dan trend selalu berbicara sebaliknya, akibat lemahnya fikrah dan ilmu, fitrah suci itu kian hari kian meredup dan bahkan hilang sama sekali.
Kita sepakat bahwa pelecehan sexsual, Zina (sex pranikah, free sex) kriminal dan narkotik serta miras adalah hal yang tidak akan pernah kita setujui, namun sebagian kita kurang peka dengan perkara-perkara yang bisa menjadi jalan pembuka yang mengarah ke sana. Pacaran menjurus pada perzinahan dan sex pranikah, pakaian yang tidak sesuai syariat akan memantik pelecehan, berhias berlebihan memancing tindak kriminal.
Untuk itu, hendaknya benteng diri segera kita bangun dan perkuat dengan “ batu” ilmu yang kuat berlapis batang baja dari rasa keimanan yang mendalam. Sehingga virus-virus perusak seakan berputus asa dari menggempur pertahanan yang kita bangun.
Leia Mais...
0

Peran Penting Akal Dan Iman Dalam Konsep Agama Islam


Berbicara tentang kedua objek ini sangatlah menarik dan penting untuk di perbincangkan, kenapa? karna pada dasarnya sumber kekuatan manusia itu terdapat pada kedua objek ini, peran penting akal dalam konsep agama, ikatan antara akal dan agama adalah pembahasan yang cukup mendetail dalam sejarah pemikiran manusia, khususnya menurut pemandangan Islam, banyak cabang yang di bahas didalamnya, salah satunya yaitu bagaimana ikatan antara akal dan iman? Masalah yang perlu dilontarkan dari objek tersebut yaitu ikatan antara akal dan iman; keduanya menyangkut tentang keyakinan kita terhadap Allah Swt. Apakah keimanan atau kepercayaan terhadap sesuatu harus dijelaskan melalui dalil akal dan akal memberikan peran penting di dalamnya? Atau merupakan hal yang sudah jelas sehingga tidak lagi memebutuhkan penjelasan dalil akal? atau keimanan berdiri di luar garis tatanan akal dan tidak saling terkait? Bagaimana hubungan antara akal dan syariat? pertanyaan-pertanyaan seperti diatas perlu kiranya untuk di telaah dan sebelumnya telah banyak diutarakan melalui acara diskusi, seminar dan media massa pada umumnya, apakah keyakinan beragama yang berasaskan iman merupakan hal yang masuk akal atau dalam bahasa globalnya rasionalitas? perbuatan yang selain itu bertentangan dengan rasio, jika apa yang kita sajikan tersebut tidak mampu mengklaim atau tidak mampu menetapkan keyakinan agama sesuai dengan akal, atau kita beragama hanya ikut-ikutan saja tanpa mencari kejelasan dan tidak memfungsikan akal kita? apakah itu benar?
“Keyakinan manusia terhadap Tuhan terdapat dalam jiwa manusia tanpa memerlukan dalil akal, begitupun sebaliknya” pendapat tersebut banyak menimbulkan pro kontra dari kalangan tokoh-tokoh dunia baik tokoh klasik maupun tokoh modern, lain lagi yang berpendapat bahwa akal dapat mengganggu ketenangan iman, oleh karenanya tidak ada hubungan antara akal dan iman, artinya iman akan di putar balikkan melalui dalil akal, sehingga dalil akal akan membahayakan keimanan bagi khalayak awam. Perbedaan pendapat seperti ini sadah menjadi hal yang sangat wajar, karna manusia di ciptakan dalam bentuk yang berbeda artinya kalau bentuk manusianya sudah berbeda  apalagi modal berpikirnya?.
Namun, sama-sama kita mengetahui bahwa salah satu kelebihan yang ada pada manusia dibanding dengan makhluk lainnya, jika manusia mengfungsikan akalnya. Banyak persoalan yang ada dalam konsep keagamaan diselesaikan melalui dalil akal. Disini akal terus berjuang mempertahankan haknya. Hubungan akal dan agama secara jelas, bahwa akal dan agama merupakan suatu pemberian Allah Swt yang keduanya menyampaikan manusia kepada suatu kesempurnaan. Dalam Al-quran Allah berfirman:
"Sesungguhnya kami turunkan alqur'an dengan bahasa arab supaya kamu memahaminya."
Dalam Islam akal sangatlah terkait hubungannya dengan iman, yakni melalui akalnya dia akan memahami agama karena akal adalah salah satu sumber syariat Islam. Ikatan keduanya akan menghantarkan manusia ke-jalan kebahagiaan. Dalam riwayat Imam Shadiq berkata: "Akal adalah dalil seorang mukmin dan petunjuk bagi orang mukmin."
Dalam riwayat lain disebutkan:
" Setiap yang berakal pasti memiliki agama. Dan yang mempunyai agama akan menghantarkan ia ke surga."
Dalam ayat dan riwayat di atas secara tegas Islam sangat mementingkan masalah akal.  Namun, ada beberapa pendapat dalam mazhab Islam yang satu dengan yang lainnya saling bertentangan dan ada pula yang mendukung fungsi dan peran akal. Diantaranya: Pendapat Ahlul Hadist ; penggunaan dalil-dalil rasionalitas (akal) dalam masalah keimanan dan agama adalah haram. Cukuplah perkara-perkara agama apa yang didatangkan oleh nabi. Akal tidak mampu menyingkap hukum-hukum Tuhan. Juga mereka berpegang kepada penafsiran yang nampak (dhahir) yang ada pada alqur'an, sehingga adanya pengertian tajsim atau tasybih pada zat Tuhan. Begitu pula mereka mengklaim bid'ah terhadap penafsiran dan takwil ayat-ayat alqur'an. Pendapat kaum Mu'tazilah ; penggunaan dalil-dalil rasionalitas yang sangat berlebihan. Pendapat Syiah Imamiyah untuk menyingkap hukum agama diperlukan dalil rasionalitas baik itu secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam Islam kita lihat bahwa ada sebagian hukum-hukum syariat yang secara rasional tidak bisa kita jelaskan, seperti: mengapa shalat zuhur empat rakaat dan shalat subuh dua rakaat. Dan dalam kategori lain sebagian hukum-hukum syariat dengan dijelaskan alasan dan tujuan dari hukum-hukum tadi berdasarkan dalil akal, contohnya: berdusta adalah perbuatan yang jelek (dalil akal), dikarenakan merugikan orang lain, riba dianggap sebagai perbuatan yang jelek dikarenakan tidak menjaga maslahat orang miskin, dan penguasaan kekayaan hanya berpihak pada orang-orang kaya, membantu orang lain dianggap sebagai perbuatan baik karena memberikan manfaat. Seorang mujtahid menetapkan hukum berdasarkan hukum akal, ketika hukum tersebut tidak kita temukan di dalam al-qur'an dan hadist serta ijma'. Melalui jalan ini dalil khusus tidaklah diketahui, juga dalil yang berasal dari nash yang shahih tidak dapat menetapkan (tidak ada nash). Akal memberikan hukumnya dalam bentuk ikhtiya (kehati-hatian), pemilihan, memberikan fatwa peniadaan segala bentuk yang berbahaya, dan lain-lain. Namun, kita percaya bahwa semua perbuatan pasti mempunyai tujuan, dan manfaat tersebut akan kembali pada manusia. Dalam syariat pun berlaku demikian. Kita berkeyakinan bahwa semua hukum Allah (termasuk hukum-hukum yang tidak diketahui manfaat dan tujuan oleh kita) memiliki tujuan dan bermanfaat bagi manusia. Bukan hanya tugas seorang ulama yang menemukan dengan melalui hasil ijtihadnya untuk menjelaskan hukum-hukum syariat tadi, juga tugas dari para pakar sains dan ilmuwan untuk menyingkap tujuan dari hukum-hukum tersebut. Para mujtahid bekerja sama dalam menyingkap hukum berdasarkan dalil-dalil yang didapat dari alqur'an dan hadist. Disini Islam menentang adanya penafsiran hukum-hukum syariat berdasarkan pendapat sendiri.
Batasan-batasan Akal ahli Ma'rifat mengatakan: akal untuk mengenal agama, adalah sesuatu yang lazim, akan tetapi itu tidaklah cukup. Karena apa yang akan dipahami, melebihi atas pemahaman ilmu usuli, apa yang disebut dengan penyaksian yakni di luar apa yang dipahami oleh akal. Begitu juga apa yang dapat kita rasakan langsung melalui perantara panca indera , setelah melalui proses uji coba, tidaklah memerluka dalil akal (burhan), akal hanya memberikan hukum general (kulli) terhadap permasalahan tersebut. Pembelaan Akal terhadap Agama Jika ditanyakan bahwa apakah permasalahan general (kulli) dan particular adanya pembelaan akal terhadap agama? Jawabannya adalah: terhadap masalah-masalah partikular, akal tidak berperan di dalamnya, dan tidak memerlukan dalil akal (argumentasi), juga terhadap masalah partikular alam, partikular syariat. Adapun sebaliknya terhadap masalah-masalah general alam dan syariat, adalah jalan untuk menggunakan dalil akal. Oleh karena itu, akal berperan penting dalam menggariskan hukum-hukum general agama dan syariat, juga hukum-hukum general alam, yakni setelah keberadaan Allah Swt kita yakini, dan Allah Swt dengan ilmu, kehendak, dan hikmah dan semua sifat kebaikan-Nya telah kita kenali, sehingga dapat dipahami bahwa Allah Yang Maha Bijaksana mempunyai tujuan dalam ciptaan-Nya. Dengan kata lain, oleh karena segala perkara, tujuan alam tidak dapat
diketahui. Dan dikarenakan alam adalah ciptaan Allah Swt. Pastilah dalam ciptaan-Nya pun mempunyai tujuan dan maksud. Namun perlu diketahui bahwa semua tujuan dan manfaat tersebut kembali pada manusia.
Dapat disimpulkan bahwa:
1.       Agama bersifat general (kulli), mendapatkan pembelaan akal secara langsung.
2.       Partikular agama secara langsung dan tanpa perantara tidak bisa dibuktikan melalui dalil akal, akan tetapi secara tidak langsung dan melalui perantara dengan menggunakan dalil akal.
3.       Tidak adanya pembelaan secara akal, tanpa perantara atas partikular
agama dikarenakan terbatasnya akal dalam perkara-perkara secara partikular.
4.       Setelah merasakan penyaksian kebenaran perkara-perkara partikular, mampu untuk diterangkan melalui dalil akal.
5.       Akal dalam menegakkan dalil untuk masalah-masalah particular sangatlah terbatas dan ukuran kebenaran atasnya tidaklah bisa dipertahankan.
Beberapa contoh tentang beberapa kemungkinan rasionalitas iman dan tidak mungkinnya rasionalitas iman:
1.       Jika yang dimaksud dengan iman di sini adalah perkara-perkara partikular, yang memiliki realitas di luar. Maka di sini akal tidak mampu menerima perkara partikular, dan keimanan tidak dapat diuraikan dengan dalil akal. Contohnya: wujud adanya surga, yang merupakan wujud realitas di luar, dengan dalil akal tidak dapat membuktikannya. Namun apabila surga dengan pemahaman general sebagai sebuah tempat pahala
yang akan diterima dari perbuatan baik atau sebagai bentuk luar (misdaq) dari perbuatan pahala perbuatan.
2.       Jika yang dimaksud dengan iman adalah hasil dari pengalaman spiritual atau sebuah pengalaman spiritual pribadi yang tertentu, maka dalil akal tidak dapat membuktikannya. Karena dengan pengalaman spiritual pribadi akan mengakibatkan berbagai macam interpretasi dari bentuk keimanan.

Leia Mais...
 
KILE' BLOG © Copyright | Template By Mundo Blogger |
Subir