Conheça também

4

HASIL RISET “PROBLEMATIKA KEIMANAN PEMUDA ISLAM MASA KINI”

Rabu, 28 Desember 2011.

“ Oleh: Arbrt Graft.
Berbicara soal pemuda, ibarat menyelami lautan tak bertepi dan tak berdasar. Sangat luas dan kompleks. Sarat dengan hal-hal yang unik, menakjubkan tapi juga terkadang mengkhawatirkan. Sebuah masa yang paling berkesan dalam episode kehidupan manusia.
Sifat-sifat seperti semangat membara, keras dalam prinsip, tubuh dan jiwa serta pikiran yang masih segar dan sedang mengalami growing up, menjadikan sosok pemuda adalah sosok manusia dalam bentuk paling indah. Peran dalam kehidupan yang mereka ambil pun cukup besar. Sehingga wajar jika estafet perjuangan hidup diserahkan sepenuhnya pada para pemuda.
Meski demikian, perlu juga diwaspadai, masa ini adalah masa dimana segala gejolak dan rasa mencapai puncaknya. Hasrat dan keinginan bergejolak dahsyat dalam jiwa. Godaan terhadap keimanan dan dorongan nafsu mendesak sangat kuat. Sehingga kans untuk tergelincir pada lembah kebinasaan terbuka lebar, sebagaimana peluang menuju kesuksesan pun terhampar di depan mata.
Kenapa tidak??? tak sedikit fakta mengatakan bahwa tingkat kebrutalan serta dekadensi moral yang sudah sampai pada tingkat yang mengerikan pada diri pemuda (yang dalam hal in pemuda islam), membuat kita prihatin. Ditambah lagi dengan hasil penelitian yang mengatakan bahwa  90 sekian persen mahasiwi di beberapa PTS ( Perguran Tinggi Suwasta ) maupun PTN telah kehilangan mahkota keperawanannya, demikian pula siswi-siswi SMU bahkan SMP, sekian persen pecanduan narkoba dan miras, juga sekian persen yang terlibat tindak kriminal maupun pelecehan sexual.
Ini semua membuktikan bahwa keimanan pemuda islam pada umumnya mengalami permasalahan dan kemunduran yang sangat dramatis dan mengerikan.
Ada rumah ada atap ada asap ada api, tentu semua musibah itu ada sebabnya. Nah…!!! Saat ini kita bahas  penyebabnya, dengan harapan setelah kita mengetahui beberapa penyebab kita bisa mencoba merenungkan untuk kemudian menyadari dan berusaha mencari solusi.
Diantara sekian banyak sebab yang ada itu, antara lain  :
1. Runtuhnya Akhlaq Pemuda Islam
Hal mendasar dari runtuhnya akhlaq pemuda Islam hari ini adalah makin punahnya kemauan mempelajari apa yang selama ini telah mereka ikrarkan dari kalimat syahadat dan ilmu dien pada umumnya. Hal mana pengetahuan tentang Islam, ma’rifah ( pengenalan) tentang Robbnya dan Rasul-Nya, akan sangat berpengaruh pada pola kehidupannya. Semua ilmu itu akan berbanding lurus dengan sikapnya sehari-hari. Semakin dalam pengetahuan diennya, semakin banyak pula akhlaq karimah terbias dalam perilakunya. Jika ma’rifah tidak bisa terinternalisasi dengan baik pada jiwa sehingga tidak bisa terrefleksi dan terrelalisir pada perilaku keseharian, maka kesalahan ada pada individunya bukan pada ilmu. Entah karena hidayah Allah belum terkarunia atau pemahaman yang salah atau juga karena dominasi nafsu yang mencengkram kuat setiap ruas tubuhnya hingga menghalangi ilmu.
2. Meneladani Figur Yang Salah.
Parameter sebuah perilaku dikatakan baik atau buruk, etis tidak etis, wajar atau kurang ajar, seringkali sangat dipengaruhi faktor figur publik. Dan efek yang ditimbulkan sangat bergantung intensitas show serta popularitas. Dalam hal ini, nampaknya yang beruntung mendapat “jabatan” sebagai publik figur paling berpengaruh adalah kalangan entertainer, khususnya artis.
Akhir-akhir ini telah bermunculan berbagai wahana sebagai ajang kreasi muda-mudi yang semuanya menjurus kepada kerusakan moral, dalam hal itu setasiun tv berlomba-lomba untuk ikut mendukung acara tersebut yang mereka namakan dengan sayembara untuk menjadi Idola, pada hakekatnya mereka sedang berbondong-bondong untuk mengikuti apa yang disebut dengan SAYEMBARA IBLIS. Apa yang Mereka tampilkan sebenarnya bukan karena kelihaian yang mereka miliki, melainkan masyarakatlah yang terlalu mudah menerima segala yang ada dan kecenderungan terhadap nafsu . Pergeseran norma dan nilai yang ada seringkali tidak bisa dirasakan, khususnya di kalangan pemuda.
Contoh dan tauladan yang baik hanya muncul  di beberapa forum tertentu. Itupun kadang hanya berupa kisah atau dongeng dari sang penyampai. Sedangkan penjelmaan dari tauladan itu secara nyata pada sikap individu sangatlah sedikit. Dengan demikian, jika para generasi muda Islam tidak  pandai-pandai mensikapi, memilah-milih dan berusaha mengontrol diri dan lingkungan semampunya, bukan mustahil lingkungan bahkan dirinya sendiri akan terinfeksi penyakit tersebut.
Berangkat dari rasa tunduk pada Sang Pencipta dan keimanan kepadaNya, Pemuda Islam harus segera berbenah diri dan mulai melangkah.
3. Mudah Terpengaruh Persepsi Yang Keliru.
Gengsi, jaim ( jaga image ), ngetrend dan lainnya telah menjadi kamus sakti kawula muda saat ini. Siapa yang tidak mengamalkannya akan dicap ketinggalan jaman dan dikucilkan. Sebenarnya hal semacam itu  tak sepenuhnya salah, akan tetapi jika yang terjadi ternyata, demi semua itu rela mengorbankan syariat  bahkan menerjang garis batasnya tentu yang semacam ini tidak bisa dibenarkan. Dan kenyataannya apa yang disebut sebagai trend masa kini acapkali berbenturan dengan nilai –nilai syariat Islam. Efek sampingnya, banyak pengamalan syariat yang berlawanan dengan trend dianggap sesuatu tidak relevan dan ortodok (kuno).
Lemahnya fikrah generasi kita menjadikan setan mudah menaburkan benih-benih pandangan sesat lewat corong-corongnya. Berbagai persepsi yang destruktif (bersifat merusak) secara kontinyu dihembuskan hingga bisa mengikis mahligai akhlak yang pada hari ini sebenarnya telah rapuh.
Tadinya seorang muslimah akan merasa  risih dengan “baju adiknya” karena sempit dan tidak kuasa menutup seluruh anggota tubuhnya,  juga dengan pergaulan yang no limit karena dianggap tidak sesuai dengan etika. Sebuah rasa yang berasal dari fitrah suci seorang manusia yang akan dituntun oleh Islam menjadi sebuah akhlak yang mulia. Tetapi mode dan trend selalu berbicara sebaliknya, akibat lemahnya fikrah dan ilmu, fitrah suci itu kian hari kian meredup dan bahkan hilang sama sekali.
Kita sepakat bahwa pelecehan sexsual, Zina (sex pranikah, free sex) kriminal dan narkotik serta miras adalah hal yang tidak akan pernah kita setujui, namun sebagian kita kurang peka dengan perkara-perkara yang bisa menjadi jalan pembuka yang mengarah ke sana. Pacaran menjurus pada perzinahan dan sex pranikah, pakaian yang tidak sesuai syariat akan memantik pelecehan, berhias berlebihan memancing tindak kriminal.
Untuk itu, hendaknya benteng diri segera kita bangun dan perkuat dengan “ batu” ilmu yang kuat berlapis batang baja dari rasa keimanan yang mendalam. Sehingga virus-virus perusak seakan berputus asa dari menggempur pertahanan yang kita bangun.
Leia Mais...
0

Peran Penting Akal Dan Iman Dalam Konsep Agama Islam


Berbicara tentang kedua objek ini sangatlah menarik dan penting untuk di perbincangkan, kenapa? karna pada dasarnya sumber kekuatan manusia itu terdapat pada kedua objek ini, peran penting akal dalam konsep agama, ikatan antara akal dan agama adalah pembahasan yang cukup mendetail dalam sejarah pemikiran manusia, khususnya menurut pemandangan Islam, banyak cabang yang di bahas didalamnya, salah satunya yaitu bagaimana ikatan antara akal dan iman? Masalah yang perlu dilontarkan dari objek tersebut yaitu ikatan antara akal dan iman; keduanya menyangkut tentang keyakinan kita terhadap Allah Swt. Apakah keimanan atau kepercayaan terhadap sesuatu harus dijelaskan melalui dalil akal dan akal memberikan peran penting di dalamnya? Atau merupakan hal yang sudah jelas sehingga tidak lagi memebutuhkan penjelasan dalil akal? atau keimanan berdiri di luar garis tatanan akal dan tidak saling terkait? Bagaimana hubungan antara akal dan syariat? pertanyaan-pertanyaan seperti diatas perlu kiranya untuk di telaah dan sebelumnya telah banyak diutarakan melalui acara diskusi, seminar dan media massa pada umumnya, apakah keyakinan beragama yang berasaskan iman merupakan hal yang masuk akal atau dalam bahasa globalnya rasionalitas? perbuatan yang selain itu bertentangan dengan rasio, jika apa yang kita sajikan tersebut tidak mampu mengklaim atau tidak mampu menetapkan keyakinan agama sesuai dengan akal, atau kita beragama hanya ikut-ikutan saja tanpa mencari kejelasan dan tidak memfungsikan akal kita? apakah itu benar?
“Keyakinan manusia terhadap Tuhan terdapat dalam jiwa manusia tanpa memerlukan dalil akal, begitupun sebaliknya” pendapat tersebut banyak menimbulkan pro kontra dari kalangan tokoh-tokoh dunia baik tokoh klasik maupun tokoh modern, lain lagi yang berpendapat bahwa akal dapat mengganggu ketenangan iman, oleh karenanya tidak ada hubungan antara akal dan iman, artinya iman akan di putar balikkan melalui dalil akal, sehingga dalil akal akan membahayakan keimanan bagi khalayak awam. Perbedaan pendapat seperti ini sadah menjadi hal yang sangat wajar, karna manusia di ciptakan dalam bentuk yang berbeda artinya kalau bentuk manusianya sudah berbeda  apalagi modal berpikirnya?.
Namun, sama-sama kita mengetahui bahwa salah satu kelebihan yang ada pada manusia dibanding dengan makhluk lainnya, jika manusia mengfungsikan akalnya. Banyak persoalan yang ada dalam konsep keagamaan diselesaikan melalui dalil akal. Disini akal terus berjuang mempertahankan haknya. Hubungan akal dan agama secara jelas, bahwa akal dan agama merupakan suatu pemberian Allah Swt yang keduanya menyampaikan manusia kepada suatu kesempurnaan. Dalam Al-quran Allah berfirman:
"Sesungguhnya kami turunkan alqur'an dengan bahasa arab supaya kamu memahaminya."
Dalam Islam akal sangatlah terkait hubungannya dengan iman, yakni melalui akalnya dia akan memahami agama karena akal adalah salah satu sumber syariat Islam. Ikatan keduanya akan menghantarkan manusia ke-jalan kebahagiaan. Dalam riwayat Imam Shadiq berkata: "Akal adalah dalil seorang mukmin dan petunjuk bagi orang mukmin."
Dalam riwayat lain disebutkan:
" Setiap yang berakal pasti memiliki agama. Dan yang mempunyai agama akan menghantarkan ia ke surga."
Dalam ayat dan riwayat di atas secara tegas Islam sangat mementingkan masalah akal.  Namun, ada beberapa pendapat dalam mazhab Islam yang satu dengan yang lainnya saling bertentangan dan ada pula yang mendukung fungsi dan peran akal. Diantaranya: Pendapat Ahlul Hadist ; penggunaan dalil-dalil rasionalitas (akal) dalam masalah keimanan dan agama adalah haram. Cukuplah perkara-perkara agama apa yang didatangkan oleh nabi. Akal tidak mampu menyingkap hukum-hukum Tuhan. Juga mereka berpegang kepada penafsiran yang nampak (dhahir) yang ada pada alqur'an, sehingga adanya pengertian tajsim atau tasybih pada zat Tuhan. Begitu pula mereka mengklaim bid'ah terhadap penafsiran dan takwil ayat-ayat alqur'an. Pendapat kaum Mu'tazilah ; penggunaan dalil-dalil rasionalitas yang sangat berlebihan. Pendapat Syiah Imamiyah untuk menyingkap hukum agama diperlukan dalil rasionalitas baik itu secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam Islam kita lihat bahwa ada sebagian hukum-hukum syariat yang secara rasional tidak bisa kita jelaskan, seperti: mengapa shalat zuhur empat rakaat dan shalat subuh dua rakaat. Dan dalam kategori lain sebagian hukum-hukum syariat dengan dijelaskan alasan dan tujuan dari hukum-hukum tadi berdasarkan dalil akal, contohnya: berdusta adalah perbuatan yang jelek (dalil akal), dikarenakan merugikan orang lain, riba dianggap sebagai perbuatan yang jelek dikarenakan tidak menjaga maslahat orang miskin, dan penguasaan kekayaan hanya berpihak pada orang-orang kaya, membantu orang lain dianggap sebagai perbuatan baik karena memberikan manfaat. Seorang mujtahid menetapkan hukum berdasarkan hukum akal, ketika hukum tersebut tidak kita temukan di dalam al-qur'an dan hadist serta ijma'. Melalui jalan ini dalil khusus tidaklah diketahui, juga dalil yang berasal dari nash yang shahih tidak dapat menetapkan (tidak ada nash). Akal memberikan hukumnya dalam bentuk ikhtiya (kehati-hatian), pemilihan, memberikan fatwa peniadaan segala bentuk yang berbahaya, dan lain-lain. Namun, kita percaya bahwa semua perbuatan pasti mempunyai tujuan, dan manfaat tersebut akan kembali pada manusia. Dalam syariat pun berlaku demikian. Kita berkeyakinan bahwa semua hukum Allah (termasuk hukum-hukum yang tidak diketahui manfaat dan tujuan oleh kita) memiliki tujuan dan bermanfaat bagi manusia. Bukan hanya tugas seorang ulama yang menemukan dengan melalui hasil ijtihadnya untuk menjelaskan hukum-hukum syariat tadi, juga tugas dari para pakar sains dan ilmuwan untuk menyingkap tujuan dari hukum-hukum tersebut. Para mujtahid bekerja sama dalam menyingkap hukum berdasarkan dalil-dalil yang didapat dari alqur'an dan hadist. Disini Islam menentang adanya penafsiran hukum-hukum syariat berdasarkan pendapat sendiri.
Batasan-batasan Akal ahli Ma'rifat mengatakan: akal untuk mengenal agama, adalah sesuatu yang lazim, akan tetapi itu tidaklah cukup. Karena apa yang akan dipahami, melebihi atas pemahaman ilmu usuli, apa yang disebut dengan penyaksian yakni di luar apa yang dipahami oleh akal. Begitu juga apa yang dapat kita rasakan langsung melalui perantara panca indera , setelah melalui proses uji coba, tidaklah memerluka dalil akal (burhan), akal hanya memberikan hukum general (kulli) terhadap permasalahan tersebut. Pembelaan Akal terhadap Agama Jika ditanyakan bahwa apakah permasalahan general (kulli) dan particular adanya pembelaan akal terhadap agama? Jawabannya adalah: terhadap masalah-masalah partikular, akal tidak berperan di dalamnya, dan tidak memerlukan dalil akal (argumentasi), juga terhadap masalah partikular alam, partikular syariat. Adapun sebaliknya terhadap masalah-masalah general alam dan syariat, adalah jalan untuk menggunakan dalil akal. Oleh karena itu, akal berperan penting dalam menggariskan hukum-hukum general agama dan syariat, juga hukum-hukum general alam, yakni setelah keberadaan Allah Swt kita yakini, dan Allah Swt dengan ilmu, kehendak, dan hikmah dan semua sifat kebaikan-Nya telah kita kenali, sehingga dapat dipahami bahwa Allah Yang Maha Bijaksana mempunyai tujuan dalam ciptaan-Nya. Dengan kata lain, oleh karena segala perkara, tujuan alam tidak dapat
diketahui. Dan dikarenakan alam adalah ciptaan Allah Swt. Pastilah dalam ciptaan-Nya pun mempunyai tujuan dan maksud. Namun perlu diketahui bahwa semua tujuan dan manfaat tersebut kembali pada manusia.
Dapat disimpulkan bahwa:
1.       Agama bersifat general (kulli), mendapatkan pembelaan akal secara langsung.
2.       Partikular agama secara langsung dan tanpa perantara tidak bisa dibuktikan melalui dalil akal, akan tetapi secara tidak langsung dan melalui perantara dengan menggunakan dalil akal.
3.       Tidak adanya pembelaan secara akal, tanpa perantara atas partikular
agama dikarenakan terbatasnya akal dalam perkara-perkara secara partikular.
4.       Setelah merasakan penyaksian kebenaran perkara-perkara partikular, mampu untuk diterangkan melalui dalil akal.
5.       Akal dalam menegakkan dalil untuk masalah-masalah particular sangatlah terbatas dan ukuran kebenaran atasnya tidaklah bisa dipertahankan.
Beberapa contoh tentang beberapa kemungkinan rasionalitas iman dan tidak mungkinnya rasionalitas iman:
1.       Jika yang dimaksud dengan iman di sini adalah perkara-perkara partikular, yang memiliki realitas di luar. Maka di sini akal tidak mampu menerima perkara partikular, dan keimanan tidak dapat diuraikan dengan dalil akal. Contohnya: wujud adanya surga, yang merupakan wujud realitas di luar, dengan dalil akal tidak dapat membuktikannya. Namun apabila surga dengan pemahaman general sebagai sebuah tempat pahala
yang akan diterima dari perbuatan baik atau sebagai bentuk luar (misdaq) dari perbuatan pahala perbuatan.
2.       Jika yang dimaksud dengan iman adalah hasil dari pengalaman spiritual atau sebuah pengalaman spiritual pribadi yang tertentu, maka dalil akal tidak dapat membuktikannya. Karena dengan pengalaman spiritual pribadi akan mengakibatkan berbagai macam interpretasi dari bentuk keimanan.

Leia Mais...
0

KEIMANAN DI BALIK INTELEKTUALITAS SEORANG PEMUDA


Pemuda adalah pondasi bagi tegaknya umat, merekalah penerus bangsa dan pembawa tombak kejayaan Islam, bahkan pemuda dimata Islam amatlah agung, pemuda yang dapat diandalkan dunia dengan keseimbangan intelektual yang tentu suatu hal ideal yang di impikan suatu umat. Islam sendiri mengakui urgensi pemuda tersebut dalam Islam  Allah meninggikan derajat mereka dan menjadikannya pondasi bagi tegaknya umat bahkan dalam kata lain kejayaan umat islam ada di bangsa pemuda.
Mungkin sentimen itu mewakili realitas pemuda yang ada dibalik keagungan yang disandarkan pada pemuda tak sejalan dengan keadaan yang ada, zaman intelektualitas telah membutakan mereka pada tujuan mereka diciptakan bahkan mengabaikan yang telah menciptakan. Disinilah letak intelektualitas pemuda perlu dipertanyakan, keberadaan keimanan yang hakiki adalah meyakini dengan fikiran, meresep dan perasaan dan melaksanakan dengan perbuatan, sikap dan perkataan.
Jadi sangat jelas korelasi intelektualitas dan keimanan seseorang sudah menjadi kebenaran  umum, karna tanpa kita berfikir dan mengingat dasar penciptaan tidak mungkin diperoleh keyakinan dan juga tanpa keyakinan tidak diperoleh keimanan.
Hal yang tak kalah penting adalah penting adalah dibutuhkannya kapabilitas pemuda untuk menfilter dan menjaga dari segala dampak negatif yang selalu menari disekeliling pemuda.
Bukankah hal itu yang kita impikan?
Leia Mais...
0

BEPIKIR BERLANDASKAN IMAN


Selumnya apa itu berpikir? Orang yang berpikir berarti ia sudah memfungiskan akalnya. Sebab dalam wikipedia bahasa indonesia mendefinisikan akal yaitu untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis,  dan menilai apakah sesuatu itu benar atau salah. Akal berasal dari bahasa arab ‘Aql yang secara bahasa berarti pengikatan dan pemahaman terhadap sesuatu. Pengertian lain dari akal adalah daya pikir (untuk memahami sesuatu), kemampuan melihat, cara memahami lingkungan, atau merupakan kata lain dari pikiran dan ingatan. Jadi pada eksistensi akal itu adalah untuk berpikir. Dalam berpikir membutuhkan akal yang sehat seperti manusia normal pada umumnya.
Apakah hati itu adalah jiwa dan jiwa adalah iman?.
Dalam buku Filsafat Cina yang ditulis oleh Fung Yu-Lan mencoba menggambarkan jiwa dan sifat, ia mengatakan bahwa apakah kemampuan mental manusia terletak pada jiwa atau sifat?, ia menjawab kemampuan mental ada pada jiwa bukan pada sifat. Dan apakah kemampuan mental pada jiwa ini merupakan kesadaran?, ia samasekali bukan. Dan berpikir memang penting untuk mengetahui segala sesuatu, Al-Ghazali mengatakan dalam kitabnya yang diberi judul Kimiyatussa’dah, siapa yang mengenal dirinya pasti mengenal tuhannya. Sesuatu yang dikenal pasti dari hasil analisis berpikir. Memang dalam berpikir mungkin beda-beda dari semaua mahluk Allah. Kadang kita berpikir positif, negatif dan ada juga model, libral, ateis, orientalis, misionaris dan teroris.
Muhammad Mustafa Al-Maragi mengatakan dalam kata pengantar pada salah satu buku Muhammad Husein Haikal mengatakan bahwa, Coba kita lihat misalnya ilmu-ilmu kalam (teologi spekulatif); mereka menentukan, bahwa kewajiban kita pertama ialah mengenal tuhan (ma’rifatullah). Yang lain berkata: tidak, yang pertama harus ditempuh ialah skeptis. Lalu tak ada jalan lain untuk mencapai ma’rifat (connaissance) itu kecuali dengan pembuktian. Dan kalaupun itu dapat digolongkan ke dalam pengertian silogisme, namus premis-premisnya sudah pasti dan dapat dirasakan, dan secara naluri akhirnya dapat pula dipahami bedasarkan pengalaman yang sempurna dan dapat dipasikan sungguh-sungguh, seperti sudah dikenal dalam ilmu logika. Setiap kesalahan yang dapat menyusup ke dalam premis-premis itu atau ke dalam bentuk penyusunannya dapat merusak pembuktian tersebut. Untuk mengetahui ini semua karena daya pikir yang sehat dan jiwa yang kuat. Adapun iman disini adalah untuk menentukan mana yang baik dalam pikiran itu dan diyakini oleh hati maka iman mengambil kesimpulan dengan landasan agama.
Maka tidak salah dalam hal ini, Yang menempuh jalan demikian adalah Al-Ghazali, dalam salah satu kitabnya ia mengatakan, bahwa terlebih dulu ia membebaskan diri dari segala macam konsep. Kemudian baru ia berpikir dan menimbang kembali, menyusun kembali lalu membuat beberapa perbandingan. Dikemukakannya beberapa argumen, diujinya dan dianalisis. Dari semua itu kemudian ia memperoleh petunjuk, bahwa islam dan tuntunan yang diberikan menurut konsep islam adalah benar. Imam Al-Ghazali melakukan ini guna menghindari hal-hal yang brsifat taklid. Ia ingin membina keimanannya itu atas dasar iman yang pasti, yang berlandaskan argumen dan pembuktian, yakni iman yang kebenarannya sudah menjadi pegangan kaum muslimin tanpa ada khilafah. 
Dalam relasi berpikir dengan iman, “sebelumnya Astagfurullah Haladzim “ ,aku tidak mau beriman apabila saya tidak berpikir, dan aku tidak beripikr apabila iman saya tidak ada. Apakah kata berpikir dan iman saling mengaitkan? Coba kita perhatikan anak kecil yang masih belum bisa berpikir, mungkinkah anak kecil itu berpikir atau bertanya separti kata-kata ini, apakah agamaku, siapa tuhanku. Jadi kita yang sudah cukup dewasa, apakah iman itu datang dari hati dan dilafalkan melalui lisan kemudian di terjamahkan melalui gerakan atau amal?.
Nah disini ada Sebuah syair yang mungkin bisa mengajak kita untuk berpikir dan beriman: jangan bergaul dengan Allah kecuali dengan perintah-perintahnya, jangan bergaul dengan mahluk kecuali dengan saling menyayangi sesama hamba Allah, jangan bergaul dengan nafsu kecuali dengan bagaimana membantah tuntutan hawa nafsu,  dan jangan bergaul dengan setan kecuali dengan memerangi setan.
Leia Mais...
 
KILE' BLOG © Copyright | Template By Mundo Blogger |
Subir